Rapuh

Masih teringat disaat air matanya keluar membasahi pipi, apabila waktu dapat berputar kembali saya tak ingin melihatnya lagi. Hari senin jadwal keberangkatan nya ke Bandung untuk menemui dosen pembimbing. Sayapun bangun pagi - pagi sekali untuk mengantarkan dia ke terminal karena tempat terminal yang cukup jauh dan jadwal keberangkatan bis itu yang paling pagi di mulai dari jam 06-08 wib. 

Setelah sembahyang shalat subuh sayapun langsung bertolak ke rumahnya untuk mengantarkan ke terminal. Sesampainya di rumah, disuguhkannya teh air anget untuk saya dan tak lupa kami pun sarapan bareng sebelum berangkat ke terminal. Alhamdulilah keluarganya pun cukup baik kepada saya, terkadang saya suka merasa malu setiap main ke rumahnya selalu di tawari untuk makan. 

Maklum di rumah saya hanya tinggal sendiri, mungkin dari situ mamahnya merasa berempati kepada saya. Jam sudah menunjukan pukul 07.00 wib kamipun bergegas untuk berangkat ke terminal tak lupa untuk berpamitan kepada kedua orang tua dan para tetangga.

Dia mempunyai dua seorang sodara, yang pertama itu sodara perempuan yang sudah bekerja sebagai guru tk di daerahnya dan sodara yang ke dua laki - laki yang sudah bekerja di Bank BPR. Sodaranya yang laki - laki sudah di pindahkan tugasnya dan saat kami mau berangkat ke terminal sodaranya yang laki - laki ikut bersama kami.

Kurang lebih dari satu jam perjalanan akhirnya kami pun sampai di terminal dengan tepat waktu. Sambil menunggu bis berangkat kami pun berbincang - bincang. Disini awal mulanya peristiwa itu terjadi. Dihari ulang tahunnya yang ke 22 saya pernah memberikannya sebuah hadiah tas dan saat di terminal ada seorang ibu - ibu yang memakai tas mirip dengan hadiah yang saya kasih ke dia.

Dia berbicara ke saya untuk menengok ke belakang untuk berpura - pura seakan akan melihat yang lain padahal melihat tas yang mirip dengan hadiah ulang tahun yang saya kasih sama dia. Namun saya lagi males buat nengok ke belakang sekedar untuk melihat tas nya.

Dia tanya kenapa gak mau lihat kebelakang padahal cuman sekali menengok saja, lalu saya jawab malu untuk melihat tas nya yang ibu - ibu itu. Dia terus meminta kepada saya untuk menengok tas yang di pakai ibu - ibu tadi sampai ibu itu naik duluan ke dalam bis.

Mungkin disitu dia merasa sakit hati kepada saya, dan tanpa saya sadar dia sudah menjatuhkan air mata. Sayapun cukup berkata sudah jangan nangis, masalah sepele seperti itu saja di buat nangis. Setelah dia naik kedalam bus sayapun berangkat ke kampus untuk keperluan jilid skripsi yang belum selesai

Dalam perjalanan dia pun mengirimkan pesan singkat kepada saya yang isinya " Kok saya setega itu sama dia, sekedar ingin menyenangkan pasangannya menengok sedikit kebelakang untuk melihat tas ibu - ibu yang mirip dengan hadiah yang saya berikan di hari ulang tahun nya pun tidak mau.

Disitu saya sadar apa yang sudah saya lakukan itu terlalu jahat sama dia. Saya menyesal sudah membuatnya bersedih padahal dia ke Bandung itu untuk berjuang demi sekripsinya. Dihari keberangkatannya malah di buat sedih sama saya. Saya meminta maaf sedalam dalamnya dan berjanji tak ingin mengulanginya lagi. Semoga saya bisa menepati janji saya ini.

Share:

3 comments:

  1. Hanya gara-gara tas ya Mas..
    Ga papa juga kan kalau sama?

    ReplyDelete
  2. Jangan lewatkan PROMO KEMERDEKAAN FREEBET INDONESIA KE-72
    Agustus EveryDay Get 10% untuk 100 User ID Beruntung di setiap Harinya bersama www.pokerayam.com
    info keberuntungan lebih lanjut bbm : D8E5205A
    Poker Terpercaya
    Poker Indonesia
    Poker Terbaik
    Klik Disini

    ReplyDelete